Kamis, 14 Januari 2016

Analisis Pendapatan Nasional dalam Perspektif Ekonomi Islam



A.    Pendahuluan
Di kalangan masyarakat Indonesia hanya mengenal Pendapatan Nasional yang diterapkan dalam ilmu ekonomi konvensional yang dapat dihitung dengan menggunakan angka GNP (Gross National Product), namun masyarakat Indonesia belum mengetahui bagaimana perhitungan pendapatan nasional dalam perspektif ekonomi islam. Masyarakat juga belum mengetahui apa perbedaan antara perhitungan pendapatan nasional konvensional dengan pendapatan nasional dalam perspektif islam.
Hal yang membedakan pendapatan nasional konvensional dengan pendapatan nasional dalam perspektif islam adalah penggunaan parameter falah. Falah adalah kesejahteraan hakiki, kesejahteraan yang sebenar-benarnya, dimana komponen-komponen rohaniah masuk ke dalam pengertian falah ini.
System Perekonomian yang ada di Indonesia begitu banyak, sehingga perlu adanya kebijakan-kebijakan. Apabila suatu kegiatan usaha ekonomi yang kita lakukan tentu ada hal-hal yang harus kita penuhi. Perekonomian suatu negara ada pembagian dua system, perekonomian tertutup dan terbuka. Dalam perekonomian tertutup juga dikenal dengan kebijakan pemerintah atau tanapa kebijakan pemerintah. Dan dalam hal ini kita akan membahas mengenai Perekonomian tertutup tanpa kebijakan pemerintah.

B.     Analisis Pendapatan Nasional
1.    Pengertian Pendapatan Nasional dan Ruang Lingkup Pendapatan Nasional
Pendapatan Nasional dapat diartikan sebagai jumlah barang dan jasa yang dihasilkan suatu Negara pada periode tertentu biasanya 1 tahun. Istilah yang terkait pada pendapatan nasional antara lain, Produk Domestik Bruto (gross domestic product/ GDP), Produk Nasional Bruto (Gross Nasional Product/GNP), serta Product Nasional Neto (Net Nasional Product/ NNP).[1]
Pendapatan nasional yang merupakan ukuran terhadap aliran uang dan barang dalam perekonomian dapat dihitung dengan tiga pendekatan,yaitu :
a)    Pendekatan produksi (production Approach)
Pendapatan nasional dengan pendekatan produksi (Gross Domestic Product), pendekatan ini diperoleh dengan menjumlahkan nilai tambah bruto (gross value added) dari semua sector produksi. Penggunaan konsep nilai tambah dilakukan guna menghindari terjadinya perhitungan ganda (double-Count).
b)   Pendekatan pendapatan (income Approach)
Pendapatan nasional dengan pendekatan pendapatan (Net National Product/NNP), berbeda dengan GNP, maka NNP merupakan GNP dikurangi penyusutan dari stok modal yang ada selama periode tertentu. Penyusutan merupakan ukuran dari bagian GNP yang harus disisihkan untuk menjaga kapasitas produksi dari perekonomian.
c)    Pendekatan pengeluaran (expenditure Approach)
Perhitungan pendapatan nasional dengan pendekatan pengeluaran dilakukan dengan menjumlahkan permintaan akhir unit-unit ekonomi,yaitu :
1.    Rumah tangga berupa konsumsi (consumtion/C)
2.    Perusahaan berupa investasi (investmen/I)
3.    Pengeluaran Pemerintahan (government/G)
4.    Pengeluaran ekspor dan impor (export-import/X-M)
Perhitungan pendapatan nasioanal dengan pendekatan uni biasa dituliskan dalam bentuk persamaan sebagai berikut :
Y=C+I, untuk perekonomian tertutup tanpa peranan pemerintah.
Y=C+I+G, untuk perekonomian tertutup dengan peranan pemerintahan
Y= C + I + G + X-M, untuk perekonomian terbuka.
GDP Rill (Real GDP dan GDP Nominal (Nominal GDP), GDP nominal mengukur nilai out put atau pendapatan nasional dalam suatu periode tertentu menurut harga pasar yang berlaku pada periode tersebut atau dikenal dengan istilah current price. Misalnya, GDP nominal 2007 dengan harga pasar yang berlaku tahun 2007. Sedangkan yang dimaksud dengan GDP rill mengukur nilai output atau pendapatan nasional pada periode tertentu menurut harga yang ditentukan (harga pada tahun dasar atau dikenal dengan istilah harga konstan/constant price). Kenaikan GDP nominal jangan selalu dipandang sebagai kenaikan/prestasi perekonomian dalam menghasilkan barang dan jasa. Karena bisa terjadi kenaikan GDP nomial disebabkan kenaikan harga yang cukup tinggi. Jadi, mengacu kepada GDP rill dan bukannya nominal untuk membandingkan output pada tahun yang berbeda.
2.    Pendapatan nasional dalam Perspektif Ekonomi Islam
Pendekatan ekonomi konvensional menyatakan GDP atau GNP Rill dapat dijadikan sebagai suatu ukuran kesejahteraan ekonomi (measure of economic welfere) atau kesejahteraan pada suatu negara. Pada waktu GNP naik, maka diasumsikan bahwa rakyat secara materi bertambah baik posisinya atau sebaliknya, tentunya setelah dibagi dengan jumlah penduduk (GNP per kapita). Kritik terhadap GNP sebagai ukuran kesejahteraan ekonomi muncul dan para pengkritik mengatakan bahwa GNP/kapita merupakan ukuran kesejahteraan yang tidak sempurna.[2] Sebagai contoh, jika niali output turun sebagai akibat orang-orang mengurangi jam kerja atau menambah waktu leisure/istirahatnya tentu hal itu bukan menggambarkan keadaan orang itu menjadi lebih buruk.
Bagaimana ekonomi islam mengkritis perhitungan GDP rill/kapita yang dijadikan sebagai indikator bagi kesejahteraan suatu negara? Satu hal yang membedakan sistem ekonomi islam dengan sistem ekomoni lainnya adalah pengunaan parameter falah.[3] Falah adalah kesejahteraan yang hakiki, kesejahteraan yang sebenar-benarnya, dimana kompenen-komponen rohaniah masuk ke dalam penegertian falah ini. Ekonomi islam merupakan sebuah sistem yang dapat mengantar umat manusia kepada real welfare (falah), kesejahteraan yang sebenarnya. Maka dari itu, selain harus memasukan unsur falah dalam menganalisis kesejahteraan, perhitungan pendapatan nasional berdasarkan islam juga harus mampu mengenali bagaimana interaksi-interaksi instrumen-instrumen wakaf, zakat, dan sedekah dalam meningkatkan kesejahteraan umat.
Pada intinya, ekonomi islam harus mampu menyediakan suatu cara untuk mengukur kesejahteraan ekonomi dan kesejahteraan sosial berdasarkan sistem moral dan sosial islam. Setidaknya ada empat hal yang semestinya bisa diukur dengan pendekatan pendapatan nasional berdasarkan ekonomi islam. Empat hal tersebut adalah
a.    Pendapatan Nasional harus dapat mengukur penyebaran pendapatan individu Rumah Tangga
Jika penyebaran pendapatan individu secara nasional bisa dideteksi secara akurat, maka akan dengan mudah dikenali seberapa besar rakyat yang masih hidup dibawah garis kemiskinan. Ketika pemerintahan Susilo Bambang Yudhuyono memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada rakyat miskin, terjadi banyak ketidakpuasan, karena daftar yang nyata dari rakyat yang dikategorikan miskin sesungguhnya sangat tidak akurat. Perhitungan dari BPS didasarkan pada survei yang kurang mencerminkan kenyataan sesungguhnya, sementara angka GNP memang tidak dapat digunakan untuk mendeteksi jumlah penduduk miskin. Demikian pula GNP tidak mampu mendeteksi kegiatan produksi yang tidak ditransaksikan di pasar. Itu artinya kegiatan kegiatan produktif keluarga yang langsung di konsumsi dan tidak memasuki ke pasar tidak tercatat di dalam GNP. Padahal kenyataan ini sangat mempengaruhi kesejahteraan individu. Sesungguhnya angka ini bisa diperoleh melalui satu survei nasional yang menyeluruh. Pendapatan perkapita yang diperoleh melalui survei demikian, bisa diduga, akan menghasilkan angka yang lebih besar ketimbang GNP per kapita.
b.      Pendapatan Nasional Harus dapat Mengukur Produksi di Sektor Pedesaan
Sangatlah disadari bahwa tidaklah mudah mengukur secara akurat produksi komoditas subsistem, namun bagaimanapun juga perlu satu kesepakatan untuk memasukan angka produksi komoditas yang dikelola secara subsistem ke dalam perhitungan GNP. Satu contoh betapa tidak sempurnanya perkiraan produksi komoditas subsistem ini adalah, kita tidak pernah benar-benar mengetahui berapa sesungguhnya pendapatan masyarakat desa dari sektor subsistem. Oleh karena itu, kita juga tidak mengetahui sekarang ini kondisinya dan apakah sedang naik atau malah sedang turun. Padahal informasi itu sangat dibutuhkan pembuat kebijakan untuk mengambil keputusan, khususnya berkaitan dengan tingkat kesejahteraan rakyat lapisan bawah yang secara masa memiliki jumlah tersebar.[4]
c.    Pendapatan Nasioanal Harus dapat mengukur kesejahteraan Ekonomi Islam
Kita sudah melihat bahwa angka rata-rata perkapita tidak menyediakan kapada kita informasi yang cukup untuk mengukur kesejahteraan yang sesungguhnya. Sangat penting untuk mengekpresikan kebutuhan efektif atau kebutuhan sadar akan bareng dan jasa, sebagai persentase total konsumsi. Hal itu perlu dilakukan karena, kemampuan untuk menyediakan kebutuhan dasar seperti pangan, perumahan, pelayanan kesehatan, pendidikan, air bersih, rekreasi dan Pelayanan publik, sesunggunya bisa menjadi ukuran bagaimana tingkat kesejahteraan dari suatu negara atau bangsa.
Beranjak dari definisi konsumsi yang ada selama ini, menurut Nordhaus dan Tobin  membagi jenis konsumsi kedalam tiga kategori :
1)   Belanja untuk keperluan publik, seperti membuat jalan, jembatan, jasa polisi dan lain-lain.
2)   Belanja rumah tangga, seperti membeli TV, mobil, dan barang-barang yang habis dipakai
3)   Memperkirakan berkurangnya kesejahteraan sebagai akibat urbanisasi, polusi, dan kemacetan.
d.   Penghitungan pendapatan Nasional sebagai ukuran dari kesejahteraan sosial islami melalui pendugaan Nilai santunan saudara dan sedekah
Kita tahu bahwa GNP adalah ukuran moneter dan tidak memasukkan transfers payments seperti sedekah. Namun haruslah disadari, sedekah memiliki peran yang signifikan di dalam masyarakat islam. Di dalam masyarakat islam, terdapat satu kewajiban menyantuni kerabat yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Dibanding amal sedekah yang sering dikeluarkan umat islam kepada mereka yang kurang beruntung, sesunguhnya lebih mudah mengestimasi zakat, satu kewajiban pembayaran transfer yang paling penting di negara muslim. Kini sedang diupayakan mengukur pendapatan dari zakat sebagai variabel kebijakan didalam pengambilan keputusan di bidang sosial dan ekonomi, sebagai bagian dari rancangan untuk mengentaskan kemiskinan. Pendayagunaan peran zakat untuk mengatasi masalah kemiskinan. Pendayagunaan peran zakat untuk mengatasi masalah kemiskinan dinegara-negara muslim kini tengah menjadi agenda negara-negara tersebut.




C.    Perekonomian Sederhana (Perekonomian Dua Sektor)
Perekonomian dua sector adalah perekonomian yang terdiri dari pengeluaran yang dilakukan rumah tangga konsumen yang biasanya disebut dengan consumption (C) dan pengeluaran yang dilakukan rumah tangga produsen(firm) yang biasanya disebut investment (I).[5] Sektor perusahaan menggunakan factor-faktor produksi yang dimiliki oleh sector rumah tangga.  Faktor-faktor produksi tersebut memperoleh pendapatan seperti gaji dan upah, sewa, bunga dan untung.
Sebagian pendapatan yang diterima oleh rumah tangga akan digunakan untuk konsumsi yaitu: membeli barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan oleh sektor perusahaan. Sisa pendapatan rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi akan ditabung dalam institusi-institusi keuangan. Pengusaha yang ingin melakukan investasi akan meminjam tabungan rumah tangga yang dikumpulkan oleh institusi-institusi keuangan. Dari interaksi kedua pelaku perekonomian tersebut muncul variable yang disebut dengan saving atau tabungan. Karena hanya ada dua pelaku, maka saving diasumsikan sama dengan rumah tangga industri. Hal ini didasarkan pada konsep bahwa tabungan rumah tangga konsumen diasumsikan akan digunakan oleh rumah tangga perusahaan atau industry. Secara aljabar, konsep perekonomian makro agregatif sederhana dua sector dapat dirumuskan sebagai berikut:
Y = C + I
Y = C + S dan I = S
Y = pendapatan nasional
C = rumah tangga konsumen
S = tabungan
I = rumah tangga industry


D.  Fungsi  Konsumsi dan Tabungan
1.   Fungsi  Konsumsi dan Tabungan dengan Pendekatan Ekonomi dan Konvensional
 Dalam perhitungan pendapatan nasional, pendapatan yang dihasilkan rumah tangga konsumen (household) merupakan sisi pendapatan sedangkan pengeluaran konsumsi rumah tangga (household) merupakan sisi pengeluaran. Menurut Keynes, konsumsi merupakan fungsi pendapatan (C=f(Y)) yang dalam bentuk persamaan dapat ditulis sebagai berikut:
C= a+bY
Dimana :
C= besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga
a= besarnya konsumsi yang tidak menguntungkan pada jumlah pendapatan atau konsumsi    jika tidak ada pendapatan.
b= marginal propensity to consume (MPC =  C/   Y) atau hasrat marginal dari masyarakat untuk melakukan konsumsi
Y= pendapatan disposable (pendapatan yang siap digunakan untuk mengonsumsi ) a>0 dan 0 < b < 1
Rasio perubahan pengeluaran konsumsi dengan perubahan pendapatan (MPC) lebih besar nol mencerminkan pengeluaran konsumsi rumah tangga akan meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat pendapatan. Sedangkan perubahan pengeluaran konsumsi dengan perubahan pendapatan (MPC) kurang dari satu mencerminkan kenaikan pengeluaran konsumsi akan selalu lebih kecil dari kenaikan pendapatan.
            Selain itu, Keynes juga mengatakan bahwa Average Propensity to consume (APC) yang merupakan perbandingan antara konsumsi yang dilakukan dengan tingkat pendapatan disposble   (APC= C/Y) akan mengalami penurunan sebagai akibat kenaikan pendapatan. Yang menarik dari pandangan Keynes yang lain yang menyatakan pendapatan merupakan penentu / determinan konsumsi yang terpenting dan tingkat bunga tidak memiliki peranan penting. Menurut Keynes pengaruh tingkat bunga terhadap konsumsi hanya sebatas teori.   
Tabungan adalah bagian pendapatan yang tidak dibelanjakan atau dikonsumsi. Fungsi tabungan menggambarkan hubungan antara tingkat tabungan rumah tangga dengan tingkat pendapatan nasional.
Faktor-faktor :
a.        Tingkat Pendapatan
b.         Keinginan untuk menabung
c.       Tingkat suku bunga bank
d.      Tingkat kepercayaan terhadap bank
          Fungsi Tabungan
Y = C + S
S = Y – C
S = Y – (a + bY)
S = -a + (1 – b)Y

2.      Fungsi  Konsumsi dengan Pendekatan Ekonomi islam Pandangan Fahim Khan tentang Fungsi Konsumsi
Mengacu pada pandangan Keynes yang menyatakan konsumsi yang dilakukan rumah tanngga konsumen dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, Khan membagi tingkat pendapatan masyarakat menjadi (1) pendapatan yang berada diatas nisab (angka minimal asset yang terkena kewajiban zakat) yang dinotasikan dengan Yu (upper classes / golongan  kaya) dan (2) pendapatan yang berada dibawah nisab yang dinotasikan dengan YL (lower classes / golongan miskin). Menurut Khan, dibagi dua bentuk atas pengeluaran (1) konsumsi yang dilakukan oleh rumah tangga tersebut untuk kebutuhan sendiri (for self) yang dilambangkan dengan notasi E1 dan (2) konsumsi yang dilakukan rumah tangga untuk menuju keridhaan Allah (cause of Allah) yang dinotasikan dengan E2.


E.  Fungsi Investasi
1.    Fungsi Investasi dengan Pendekatan Ekonomi Konvensional
Investasi (I) merupakan pengeluaran perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan pelengkapan-pelengkapan produksi untuk menambah kemampuan untuk memproduksi barang-barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian.[6]
Ada 3 bentuk pengeluaran investasi :
a)      Investasi tetap bisnis (business fixed investment), yaitu pengeluaran investasi untuk pembelian berbagai jenis barang modal  yaitu mesin-mesin dan peralatan produksi lainnya untuk mendirikan berbagai jenis industry dan perusahaan.
b)     Investasi residensial (residensial investment), yaitu pengeluaran untuk mendirikan rumah temapat tinggal, bangunan kantor, bangunan pabrik, bangunan pabrik,dan bangunan lainnya.
c)      Investasi persedian (intervetory investment)  yaitu berupa pertambahan nilai stok barang-barang yang belum terjual, bahan mentah, dan barang yang lain yang belum diproses  produksi pada akhit tahun perhitungan pendapatan nasional.

2.    Fungsi Investasi dengan Pendekatan Ekonomi Islam
Perbedaan dengan pendekatan ekonomi  konvensional karena fungsi investasi dalam ekonomi konvensional dipengaruhi tingkat suku bunga, hal ini tentunya tidak berlaku dalam pendekatan ekonomi islam.
Menurut Metwally, investasi dinegara-negara penganut ekonomi islam dipengaruhi 3 faktor, yaitu
(1)  Ada sanksiterhadap pemegang asset yang kurang atau tidak produktif (hoarding idle asset)
(2)  Dilarang melakukan berbagai bentuk spekulasi dan segala macam judi.
(3) Tingkat bunga berbagai pinjaman sama dengan nol. Sehingga seorang muslim boleh memilih tiga alternative atas dananya, yaitu ;
(a)   memegang kekayaannya dalam bentuk uang kas
(b) memegang tabungannya dalam bentuk asset tanpa berproduksi seperti    deposito, real estate, permata
(c) menginvestasikan tabungannya (seperti memiliki proyek proyek yang menambah persedian capital nasional). 

F.   Angka pengganda (Multiplier)
Multiplier atau angka pengganda adalah hubungan kausal antara variabel tertentu dengan variabel pendapatan nasional. Jika angka pengganda tersebut mempunyai angka yang tinggi, maka perubahan yang terjadi pada variabel tersebut akan mempengaruhi terhadap tingkat pendapatan nasional juga besar dan sebalikanya. Angka pengganda menggambarkan perbandingan diantara jumlah pertambahan/pengurangan dalam pendapatan nasional dengan jumlah pertambahan/pengurangan dalam pengeluaran agregat yang telah menimbulkan perubahan dalam pendapatan nasional. Pendapatan nasional berubah sebagai akibat dari perubahan nilai komponen, yaitu: a). Investasi, b)Konsumsi, c)pengeluaran pemerintah, d)eksport dan import. Perubahan pendapatan agregat sama dengan perubahan konsumsi ditambah perubahan investasi . karena perubahan konsumsi tergantung pada perubahan dalam investasi, kita dapat menghapus konsumsi dari persamaan.
Perubahan dalam pendapatan agregat sama dengan pengganda investasi kali perubahan investasi. Pendapatan nasional berubah sebagai akibat dari perubahan nilai komponen sebagai berikut : a) Investasi, b) Konsumsi, c) Pengeluaran pemerintah dan d) Ekspor Impor. [7]
G.    Kesimpulan
Pendapatan Nasional dapat diartikan sebagai jumlah barang dan jasa yang dihasilkan suatu Negara pada periode tertentu biasanya 1 tahun. Istilah yang terkait pada pendapatan nasional antara lain, Produk Domestik Bruto (gross domestic product/ GDP), Produk Nasional Bruto (Gross Nasional Product/GNP), serta Product Nasional Neto (Net Nasional Product/ NNP).
Hal yang membedakan pendapatan nasional konvensional dengan pendapatan nasional dalam perspektif islam adalah penggunaan parameter falah. Falah adalah kesejahteraan hakiki, kesejahteraan yang sebenar-benarnya, dimana komponen-komponen rohaniah masuk ke dalam pengertian falah.
Perekonomian tertutup tanpa kebijakan pemerintah adalah Perekonomian dua sector yang merupakan perekonomian yang terdiri dari pengeluaran yang dilakukan rumah tangga konsumen.
Investasi merupakan pengeluaran perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan pelengkapan-pelengkapan produksi untuk menambah kemampuan untuk memproduksi barang-barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian.

















DAFTAR PUSTAKA
  
Huda Nurul, et al. 2009 Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teoritis. Jakarta : Kencana.
Edwin Nasution Mustava,et al. 2010 Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam. Jakarta : Kencana.



[1]Nurul Huda, et al. Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teoritis (Jakarta : Kencana, 2009) hal. 21
[2] Nurul Huda, et al. Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teoritis . . . Hal. 27- 28
[3] Mustava Edwin Nasution,et al. Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam. (Jakarta : Kencana, 2010) hal. 195

[4] Mustava Edwin Nasution,et al. Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam. . . Hal. 198
[5] Nurul Huda, et al. Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teoritis . . . Hal. 35.

[6] Nurul Huda, et al. Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teoritis . . . Hal. 46