A.
Pendahuluan
Di kalangan
masyarakat Indonesia hanya mengenal Pendapatan Nasional yang diterapkan dalam
ilmu ekonomi konvensional yang dapat dihitung dengan menggunakan angka GNP (Gross
National Product), namun masyarakat Indonesia belum mengetahui bagaimana
perhitungan pendapatan nasional dalam perspektif ekonomi islam. Masyarakat juga
belum mengetahui apa perbedaan antara perhitungan pendapatan nasional
konvensional dengan pendapatan nasional dalam perspektif islam.
Hal yang
membedakan pendapatan nasional konvensional dengan pendapatan nasional dalam
perspektif islam adalah penggunaan parameter falah. Falah adalah kesejahteraan
hakiki, kesejahteraan yang sebenar-benarnya, dimana komponen-komponen rohaniah
masuk ke dalam pengertian falah ini.
System
Perekonomian yang ada di Indonesia begitu banyak, sehingga perlu adanya
kebijakan-kebijakan. Apabila suatu kegiatan usaha ekonomi yang kita lakukan
tentu ada hal-hal yang harus kita penuhi. Perekonomian suatu negara ada
pembagian dua system, perekonomian tertutup dan terbuka. Dalam perekonomian
tertutup juga dikenal dengan kebijakan pemerintah atau tanapa kebijakan
pemerintah. Dan dalam hal ini kita akan membahas mengenai Perekonomian tertutup
tanpa kebijakan pemerintah.
B.
Analisis Pendapatan Nasional
1.
Pengertian Pendapatan Nasional dan Ruang Lingkup Pendapatan Nasional
Pendapatan Nasional dapat diartikan sebagai jumlah barang dan jasa
yang dihasilkan suatu Negara pada periode tertentu biasanya 1 tahun. Istilah
yang terkait pada pendapatan nasional antara lain, Produk Domestik Bruto (gross
domestic product/ GDP), Produk Nasional Bruto (Gross Nasional
Product/GNP), serta Product Nasional Neto (Net Nasional Product/ NNP).[1]
Pendapatan nasional yang merupakan ukuran terhadap aliran uang dan
barang dalam perekonomian dapat dihitung dengan tiga pendekatan,yaitu :
a)
Pendekatan
produksi (production Approach)
Pendapatan
nasional dengan pendekatan produksi (Gross Domestic Product), pendekatan
ini diperoleh dengan menjumlahkan nilai tambah bruto (gross value added)
dari semua sector produksi. Penggunaan konsep nilai tambah dilakukan guna
menghindari terjadinya perhitungan ganda (double-Count).
b)
Pendekatan
pendapatan (income Approach)
Pendapatan
nasional dengan pendekatan pendapatan (Net National Product/NNP),
berbeda dengan GNP, maka NNP merupakan GNP dikurangi penyusutan dari stok modal
yang ada selama periode tertentu. Penyusutan merupakan ukuran dari bagian GNP yang harus disisihkan untuk
menjaga kapasitas produksi dari perekonomian.
c)
Pendekatan
pengeluaran (expenditure Approach)
Perhitungan pendapatan nasional dengan pendekatan
pengeluaran dilakukan dengan menjumlahkan permintaan akhir unit-unit
ekonomi,yaitu :
1. Rumah tangga berupa konsumsi (consumtion/C)
2. Perusahaan berupa investasi (investmen/I)
3. Pengeluaran Pemerintahan (government/G)
4. Pengeluaran ekspor dan impor (export-import/X-M)
Perhitungan pendapatan nasioanal dengan pendekatan uni biasa
dituliskan dalam bentuk persamaan sebagai berikut :
Y=C+I, untuk perekonomian tertutup tanpa peranan pemerintah.
Y=C+I+G, untuk perekonomian tertutup dengan peranan pemerintahan
Y= C + I + G + X-M, untuk perekonomian terbuka.
GDP Rill (Real
GDP dan GDP Nominal (Nominal GDP),
GDP nominal mengukur nilai out put atau pendapatan nasional dalam suatu periode
tertentu menurut harga pasar yang berlaku pada periode tersebut atau dikenal
dengan istilah current price. Misalnya, GDP nominal 2007 dengan harga
pasar yang berlaku tahun 2007. Sedangkan yang dimaksud dengan GDP rill mengukur
nilai output atau pendapatan nasional pada periode tertentu menurut harga yang
ditentukan (harga pada tahun dasar atau dikenal dengan istilah harga konstan/constant
price). Kenaikan GDP nominal jangan selalu dipandang sebagai
kenaikan/prestasi perekonomian dalam menghasilkan barang dan jasa. Karena bisa
terjadi kenaikan GDP nomial disebabkan kenaikan harga yang cukup tinggi. Jadi,
mengacu kepada GDP rill dan bukannya nominal untuk membandingkan output pada
tahun yang berbeda.
2. Pendapatan nasional dalam Perspektif Ekonomi Islam
Pendekatan ekonomi konvensional menyatakan GDP
atau GNP Rill dapat dijadikan sebagai suatu ukuran kesejahteraan ekonomi (measure of economic welfere) atau
kesejahteraan pada suatu negara. Pada waktu GNP naik, maka diasumsikan bahwa
rakyat secara materi bertambah baik posisinya atau sebaliknya, tentunya setelah
dibagi dengan jumlah penduduk (GNP per kapita). Kritik terhadap GNP sebagai
ukuran kesejahteraan ekonomi muncul dan para pengkritik mengatakan bahwa
GNP/kapita merupakan ukuran kesejahteraan yang tidak sempurna.[2] Sebagai
contoh, jika niali output turun sebagai akibat orang-orang mengurangi jam kerja
atau menambah waktu leisure/istirahatnya
tentu hal itu bukan menggambarkan keadaan orang itu menjadi lebih buruk.
Bagaimana ekonomi islam mengkritis perhitungan
GDP rill/kapita yang dijadikan sebagai indikator bagi kesejahteraan suatu
negara? Satu hal yang membedakan sistem ekonomi islam dengan sistem ekomoni
lainnya adalah pengunaan parameter falah.[3]
Falah adalah kesejahteraan
yang hakiki, kesejahteraan yang sebenar-benarnya, dimana kompenen-komponen
rohaniah masuk ke dalam penegertian falah
ini. Ekonomi islam merupakan sebuah sistem yang dapat mengantar umat manusia
kepada real welfare (falah), kesejahteraan
yang sebenarnya. Maka dari itu, selain harus memasukan unsur falah dalam menganalisis kesejahteraan,
perhitungan pendapatan nasional berdasarkan islam juga harus mampu mengenali
bagaimana interaksi-interaksi instrumen-instrumen wakaf, zakat, dan sedekah
dalam meningkatkan kesejahteraan umat.
Pada intinya, ekonomi islam harus mampu
menyediakan suatu cara untuk mengukur kesejahteraan ekonomi dan kesejahteraan
sosial berdasarkan sistem moral dan sosial islam. Setidaknya ada empat hal yang
semestinya bisa diukur dengan pendekatan pendapatan nasional berdasarkan
ekonomi islam. Empat hal tersebut adalah
a. Pendapatan Nasional harus dapat mengukur
penyebaran pendapatan individu Rumah Tangga
Jika penyebaran pendapatan individu secara
nasional bisa dideteksi secara akurat, maka akan dengan mudah dikenali seberapa
besar rakyat yang masih hidup dibawah garis kemiskinan. Ketika pemerintahan Susilo
Bambang Yudhuyono memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada rakyat miskin,
terjadi banyak ketidakpuasan, karena daftar yang nyata dari rakyat yang
dikategorikan miskin sesungguhnya sangat tidak akurat. Perhitungan dari BPS
didasarkan pada survei yang kurang mencerminkan kenyataan sesungguhnya,
sementara angka GNP memang tidak dapat digunakan untuk mendeteksi jumlah
penduduk miskin. Demikian pula GNP tidak mampu mendeteksi kegiatan produksi
yang tidak ditransaksikan di pasar. Itu artinya kegiatan kegiatan produktif
keluarga yang langsung di konsumsi dan tidak memasuki ke pasar tidak tercatat
di dalam GNP. Padahal kenyataan ini sangat mempengaruhi kesejahteraan individu.
Sesungguhnya angka ini bisa diperoleh melalui satu survei nasional yang
menyeluruh. Pendapatan perkapita yang diperoleh melalui survei demikian, bisa
diduga, akan menghasilkan angka yang lebih besar ketimbang GNP per kapita.
b. Pendapatan Nasional Harus dapat Mengukur
Produksi di Sektor Pedesaan
Sangatlah disadari bahwa tidaklah mudah
mengukur secara akurat produksi komoditas subsistem, namun bagaimanapun juga
perlu satu kesepakatan untuk memasukan angka produksi komoditas yang dikelola
secara subsistem ke dalam perhitungan GNP. Satu contoh betapa tidak sempurnanya
perkiraan produksi komoditas subsistem ini adalah, kita tidak pernah
benar-benar mengetahui berapa sesungguhnya pendapatan masyarakat desa dari
sektor subsistem. Oleh karena itu, kita juga tidak mengetahui sekarang ini
kondisinya dan apakah sedang naik atau malah sedang turun. Padahal informasi
itu sangat dibutuhkan pembuat kebijakan untuk mengambil keputusan, khususnya
berkaitan dengan tingkat kesejahteraan rakyat lapisan bawah yang secara masa
memiliki jumlah tersebar.[4]
c. Pendapatan Nasioanal Harus dapat mengukur
kesejahteraan Ekonomi Islam
Kita sudah melihat bahwa angka rata-rata
perkapita tidak menyediakan kapada kita informasi yang cukup untuk mengukur
kesejahteraan yang sesungguhnya. Sangat penting untuk mengekpresikan kebutuhan
efektif atau kebutuhan sadar akan bareng dan jasa, sebagai persentase total
konsumsi. Hal itu perlu dilakukan karena, kemampuan untuk menyediakan kebutuhan
dasar seperti pangan, perumahan, pelayanan kesehatan, pendidikan, air bersih,
rekreasi dan Pelayanan publik, sesunggunya bisa menjadi ukuran bagaimana
tingkat kesejahteraan dari suatu negara atau bangsa.
Beranjak dari
definisi konsumsi yang ada selama ini, menurut Nordhaus dan Tobin membagi jenis konsumsi kedalam tiga kategori
:
1) Belanja untuk keperluan publik, seperti
membuat jalan, jembatan, jasa polisi dan lain-lain.
2) Belanja rumah tangga, seperti membeli TV,
mobil, dan barang-barang yang habis dipakai
3) Memperkirakan berkurangnya kesejahteraan
sebagai akibat urbanisasi, polusi, dan kemacetan.
d. Penghitungan pendapatan Nasional sebagai
ukuran dari kesejahteraan sosial islami melalui pendugaan Nilai santunan
saudara dan sedekah
Kita tahu bahwa GNP
adalah ukuran moneter dan tidak memasukkan
transfers payments seperti sedekah. Namun haruslah disadari, sedekah memiliki
peran yang signifikan di dalam masyarakat islam. Di dalam masyarakat islam,
terdapat satu kewajiban menyantuni kerabat yang sedang mengalami kesulitan
ekonomi. Dibanding amal sedekah yang sering dikeluarkan umat islam kepada
mereka yang kurang beruntung, sesunguhnya lebih mudah mengestimasi zakat, satu
kewajiban pembayaran transfer yang paling penting di negara muslim. Kini sedang
diupayakan mengukur pendapatan dari zakat sebagai variabel kebijakan didalam
pengambilan keputusan di bidang sosial dan ekonomi, sebagai bagian dari
rancangan untuk mengentaskan kemiskinan. Pendayagunaan peran zakat untuk
mengatasi masalah kemiskinan. Pendayagunaan peran zakat untuk mengatasi masalah
kemiskinan dinegara-negara muslim kini tengah menjadi agenda negara-negara
tersebut.
C.
Perekonomian Sederhana (Perekonomian Dua Sektor)
Perekonomian
dua sector adalah perekonomian yang terdiri dari pengeluaran yang dilakukan
rumah tangga konsumen yang biasanya disebut dengan consumption (C) dan pengeluaran yang dilakukan rumah tangga
produsen(firm) yang biasanya disebut investment
(I).[5] Sektor perusahaan menggunakan
factor-faktor produksi yang dimiliki oleh sector rumah tangga. Faktor-faktor produksi tersebut memperoleh pendapatan
seperti gaji dan upah, sewa, bunga dan untung.
Sebagian
pendapatan yang diterima oleh rumah tangga akan digunakan untuk konsumsi yaitu:
membeli barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan oleh sektor perusahaan. Sisa pendapatan rumah tangga yang tidak digunakan
untuk konsumsi akan ditabung dalam institusi-institusi keuangan. Pengusaha yang ingin melakukan investasi akan meminjam
tabungan rumah tangga yang dikumpulkan oleh institusi-institusi keuangan. Dari interaksi kedua pelaku perekonomian tersebut
muncul variable yang disebut dengan saving atau tabungan. Karena hanya
ada dua pelaku, maka saving diasumsikan sama dengan rumah tangga
industri. Hal ini didasarkan pada konsep bahwa tabungan rumah tangga konsumen
diasumsikan akan digunakan oleh rumah tangga perusahaan atau industry. Secara aljabar, konsep perekonomian makro agregatif
sederhana dua sector dapat dirumuskan sebagai berikut:
Y = C + I
Y = C + S dan I = S
Y = pendapatan nasional
C = rumah tangga konsumen
S = tabungan
I = rumah tangga industry
D.
Fungsi
Konsumsi dan Tabungan
1. Fungsi
Konsumsi dan Tabungan dengan Pendekatan Ekonomi dan
Konvensional
Dalam perhitungan pendapatan nasional, pendapatan yang dihasilkan rumah
tangga konsumen (household) merupakan sisi pendapatan sedangkan
pengeluaran konsumsi rumah tangga (household) merupakan sisi
pengeluaran. Menurut
Keynes, konsumsi merupakan fungsi pendapatan (C=f(Y)) yang dalam bentuk
persamaan dapat ditulis sebagai berikut:
C= a+bY
Dimana :
C= besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga
a= besarnya konsumsi yang tidak menguntungkan pada jumlah pendapatan atau
konsumsi jika tidak ada pendapatan.
b= marginal propensity to consume
(MPC = C/ Y) atau hasrat marginal dari masyarakat
untuk melakukan konsumsi
Y= pendapatan disposable (pendapatan
yang siap digunakan untuk mengonsumsi ) a>0 dan 0 < b < 1
Rasio perubahan pengeluaran konsumsi dengan perubahan pendapatan (MPC)
lebih besar nol mencerminkan pengeluaran konsumsi rumah tangga akan meningkat
seiring dengan meningkatnya tingkat pendapatan. Sedangkan perubahan pengeluaran
konsumsi dengan perubahan pendapatan (MPC) kurang dari satu mencerminkan
kenaikan pengeluaran konsumsi akan selalu lebih kecil dari kenaikan pendapatan.
Selain
itu, Keynes juga mengatakan bahwa Average Propensity to consume (APC) yang
merupakan perbandingan antara konsumsi yang dilakukan dengan tingkat pendapatan
disposble (APC= C/Y) akan mengalami penurunan sebagai
akibat kenaikan pendapatan. Yang menarik dari pandangan Keynes yang lain yang
menyatakan pendapatan merupakan penentu / determinan konsumsi yang terpenting
dan tingkat bunga tidak memiliki peranan penting. Menurut Keynes pengaruh
tingkat bunga terhadap konsumsi hanya sebatas teori.
Tabungan adalah bagian pendapatan yang tidak dibelanjakan atau dikonsumsi. Fungsi
tabungan menggambarkan hubungan antara tingkat tabungan rumah tangga dengan
tingkat pendapatan nasional.
Faktor-faktor
:
a.
Tingkat Pendapatan
b.
Keinginan
untuk menabung
c.
Tingkat suku
bunga bank
d.
Tingkat
kepercayaan terhadap bank
Fungsi Tabungan
Y = C + S
S = Y – C
S = Y – (a + bY)
S = -a + (1 – b)Y
2. Fungsi
Konsumsi dengan Pendekatan Ekonomi islam Pandangan Fahim Khan tentang Fungsi Konsumsi
Mengacu pada
pandangan Keynes yang menyatakan konsumsi yang dilakukan rumah tanngga konsumen
dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, Khan membagi tingkat pendapatan masyarakat
menjadi (1) pendapatan yang berada diatas nisab (angka minimal asset yang
terkena kewajiban zakat) yang dinotasikan dengan Yu (upper classes / golongan
kaya) dan (2) pendapatan yang berada dibawah nisab yang dinotasikan
dengan YL (lower classes / golongan
miskin). Menurut Khan, dibagi dua
bentuk atas pengeluaran (1) konsumsi yang dilakukan oleh rumah tangga tersebut
untuk kebutuhan sendiri (for self)
yang dilambangkan dengan notasi E1 dan (2) konsumsi yang dilakukan rumah tangga
untuk menuju keridhaan Allah (cause of Allah) yang dinotasikan dengan E2.
E. Fungsi Investasi
1.
Fungsi Investasi dengan Pendekatan
Ekonomi Konvensional
Investasi (I) merupakan pengeluaran perusahaan untuk membeli
barang-barang modal dan pelengkapan-pelengkapan produksi untuk menambah
kemampuan untuk memproduksi barang-barang dan jasa yang tersedia dalam
perekonomian.[6]
Ada 3 bentuk pengeluaran investasi :
a)
Investasi tetap bisnis (business
fixed investment), yaitu pengeluaran investasi untuk pembelian berbagai
jenis barang modal yaitu mesin-mesin dan
peralatan produksi lainnya untuk mendirikan berbagai jenis industry dan
perusahaan.
b) Investasi
residensial (residensial investment),
yaitu pengeluaran untuk mendirikan rumah temapat tinggal, bangunan kantor,
bangunan pabrik, bangunan pabrik,dan bangunan lainnya.
c)
Investasi persedian (intervetory
investment) yaitu berupa pertambahan
nilai stok barang-barang yang belum terjual, bahan mentah, dan barang yang lain
yang belum diproses produksi pada akhit
tahun perhitungan pendapatan nasional.
2.
Fungsi Investasi dengan Pendekatan
Ekonomi Islam
Perbedaan dengan pendekatan
ekonomi konvensional karena fungsi investasi
dalam ekonomi konvensional dipengaruhi tingkat suku bunga, hal ini tentunya
tidak berlaku dalam pendekatan ekonomi islam.
Menurut Metwally, investasi
dinegara-negara penganut ekonomi islam dipengaruhi 3 faktor, yaitu
(1) Ada
sanksiterhadap pemegang asset yang kurang atau tidak produktif (hoarding idle asset)
(2) Dilarang melakukan berbagai bentuk spekulasi
dan segala macam judi.
(3) Tingkat bunga berbagai pinjaman sama dengan nol.
Sehingga seorang muslim boleh memilih tiga alternative atas dananya, yaitu ;
(a) memegang kekayaannya
dalam bentuk uang kas
(b) memegang tabungannya dalam bentuk asset tanpa
berproduksi seperti deposito, real estate, permata
(c)
menginvestasikan tabungannya (seperti memiliki proyek proyek yang menambah
persedian capital nasional).
F.
Angka
pengganda (Multiplier)
Multiplier
atau angka pengganda adalah hubungan kausal antara variabel tertentu dengan
variabel pendapatan nasional. Jika angka pengganda tersebut mempunyai angka
yang tinggi, maka perubahan yang terjadi pada variabel tersebut akan
mempengaruhi terhadap tingkat pendapatan nasional juga besar dan sebalikanya. Angka pengganda menggambarkan
perbandingan diantara jumlah pertambahan/pengurangan dalam pendapatan nasional
dengan jumlah pertambahan/pengurangan dalam pengeluaran agregat yang telah
menimbulkan perubahan dalam pendapatan nasional. Pendapatan nasional
berubah sebagai akibat dari perubahan nilai komponen, yaitu: a). Investasi, b)Konsumsi,
c)pengeluaran pemerintah, d)eksport dan import. Perubahan pendapatan
agregat sama dengan perubahan konsumsi ditambah perubahan investasi . karena
perubahan konsumsi tergantung pada perubahan dalam investasi, kita dapat
menghapus konsumsi dari persamaan.
Perubahan
dalam pendapatan agregat sama dengan pengganda investasi kali perubahan
investasi. Pendapatan
nasional berubah sebagai akibat dari perubahan nilai komponen sebagai berikut :
a) Investasi, b) Konsumsi, c) Pengeluaran pemerintah dan d) Ekspor Impor. [7]
G. Kesimpulan
Pendapatan Nasional dapat diartikan sebagai jumlah barang dan jasa
yang dihasilkan suatu Negara pada periode tertentu biasanya 1 tahun. Istilah
yang terkait pada pendapatan nasional antara lain, Produk Domestik Bruto (gross
domestic product/ GDP), Produk Nasional Bruto (Gross Nasional Product/GNP),
serta Product Nasional Neto (Net Nasional Product/ NNP).
Hal yang
membedakan pendapatan nasional konvensional dengan pendapatan nasional dalam
perspektif islam adalah penggunaan parameter falah. Falah adalah kesejahteraan
hakiki, kesejahteraan yang sebenar-benarnya, dimana komponen-komponen rohaniah
masuk ke dalam pengertian falah.
Perekonomian
tertutup tanpa kebijakan pemerintah adalah Perekonomian dua sector yang
merupakan perekonomian yang terdiri dari pengeluaran yang dilakukan rumah
tangga konsumen.
Investasi
merupakan pengeluaran perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan
pelengkapan-pelengkapan produksi untuk menambah kemampuan untuk memproduksi
barang-barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian.
DAFTAR PUSTAKA
Huda
Nurul, et al. 2009 Ekonomi Makro Islam
Pendekatan Teoritis. Jakarta :
Kencana.
Edwin
Nasution Mustava,et al. 2010 Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam. Jakarta
: Kencana.
Jimmy, “Multiplier,"
http://scandalum.wordpress.com/2007/10/17/10-the-marginal-propensity-to-consume-and-the-multiplier/ (17-Mei-2010)
[3] Mustava
Edwin Nasution,et al. Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam. (Jakarta : Kencana, 2010) hal. 195
[7] Jimmy, “Multiplier,"
http://scandalum.wordpress.com/2007/10/17/10-the-marginal-propensity-to-consume-and-the-multiplier/(17-Mei-2010)